SUKADANA - Emosi warga Dusun Pulosari, Desa Labuhan Ratu, meledak. Kesal karena 3 anak mereka gagal masuk sekolah yang berdiri di atas tanah hibah mereka sendiri, warga kompak menutup akses jalan menuju SMAN 1 Labuhan Ratu, Jumat (16/7).
Bukan hanya jalan, saluran drainase dari sekolah ke lahan warga juga ditutup. Bahkan masjid di lingkungan sekolah dilarang dipakai untuk kegiatan apapun oleh pihak sekolah.
"Ini sekolah berdiri di atas tanah hibah warga. Lha kok anak-anak kami sendiri malah tidak diprioritaskan masuk? Di mana keadilannya!" geram Teguh, warga sekitar sekolah.
Menurut warga sekitar, SMAN 1 Labuhan Ratu berdiri sejak 2005. Lahan sekolah berasal dari hibah warga Dusun Pulosari. Harapannya sederhana, anak-anak di sekitar sekolah bisa sekolah dekat rumah.
Namun harapan itu pupus di SPMB 2026. Dari 430 pendaftar, hanya 324 siswa yang diterima. Dan dari 3 anak warga setempat, tidak ada satupun yang lolos.
Data sekolah menyebut penerimaan dilakukan lewat 4 jalur: Domisili 30%, Afirmasi 25%, Prestasi 35%, Mutasi 5%.
Rinciannya: 180 siswa jalur Domisili, 82 jalur Afirmasi, 62 jalur Prestasi, dan 0 jalur Mutasi.
Sementara saat di temui, Kepala SMAN 1 Labuhan Ratu, Mulyadi, berdalih proses SPMB sudah sesuai juknis yang berlaku.
"Terkait penutupan jalan kami tidak permasalahkan, Itu hak mereka," ucap Mulyadi singkat.
Sikap pasif itu justru menambah bara. Warga menilai, sekolah lupa daratan. Menikmati lahan hibah warga, tapi abai terhadap nasib anak-anak pemilik tanah.
"Masa iya kami hibahkan tanah, giliran anak kami daftar malah tersisih. Ini bukan soal aturan. Ini soal hati nurani," timpal Sahrun, salah satu orang tua yang anaknya gagal masuk di sekolahan tetsebut.
Rencananya akan ada mediasi antara warga, sekolah, dan pemerintah daerah. Tapi bagi warga, mediasi bukan sekadar duduk bersama. Mereka menuntut kejelasan dan keberpihakan.
